dilanjut kapan2 lg ya?
baca selengkapnya >>>
go...blog
- Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D
- Game Flash Logika [ download ]
- Rumus Pembuatan Antena Kaleng WIFI / GSM / CDMA
- Air Terjun Pantai Jogan Gunungkidul Yogyakarta
- [Oprek Lensa] Cara geser Optik beberapa Lensa untuk mendapatkan fokus Infinity Nikon
- Jembatan Gantung dan Gunung Api Purba di Patuk Gunungkidul
Minggu, 26 Februari 2012
Air Terjun Pantai Jogan Gunungkidul Yogyakarta
Air Terjun yang bersebelahan dengan Pantai Jogan terletak di desa Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, Jogja. Kira kira sekitar 200 meter barat Pantai Siung, atau sebelum pantai siung kalo dari pantai baron kukup krakal
Senin, 06 Februari 2012
Lytro Kamera Mengubah Fokus Setelah Mengambil Gambar
Kamera Lytro dapat Mengubah Fokus Setelah Mengambil Gambar. Karena kamera Lytro bisa menangkap seluruh medan cahaya, yakni semua cahaya melintas dari semua arah pada semua titik yang ada didalam objek.
Dengan menggunakan Ligh Field Sensor jika diterjemahkan menjadi sensor medan cahaya, yang mampu menangkap warna, intensitas, dan titik arah cahaya. Hal ini sangat berbeda dengan model kamera yang sebelumnya, yaitu hanya menangkap intensitas cahaya yang masuk saja. Teknologi Kamera Lytro lebih ke software dengan menerapkan algoritma yang bisa membaca arah titik cahaya, sehingga mampu mengetahui letak posisi titik gambar yang direkam, kemudian mengolah arah cahaya sehingga area fokus menjadi berubah.
harga inden, sumber dari kaskus.us/showthread.php?t=12294514 dan webnya lytro.com
Red Hot $499 | 750 Pictures - 16GB
Graphite $399 | 350 Pictures - 8GB
Electric Blue $399 | 350 Pictures - 8GB
Meskipun bisa inden, kamera ini baru akan dikirim awal 2012, tapi waktunya belum jelas, hasil fotonya hanya bisa di import dengan komputer Mac, untuk windows, belum jelas kapan disediakan software pendukungnya. ternyata hanya terima pengiriman di Amerika Serikat saja, bagaimana dengan anda kapan akan mencoba Kamera Lytro yang dapat Mengubah Fokus Setelah Mengambil Gambar.
baca selengkapnya >>>
| Lytro Kamera menangkap titik arah cahaya |
![]() |
| 3 Warna Kamera Lytro |
harga inden, sumber dari kaskus.us/showthread.php?t=12294514 dan webnya lytro.com
Red Hot $499 | 750 Pictures - 16GB
Graphite $399 | 350 Pictures - 8GB
Electric Blue $399 | 350 Pictures - 8GB
Meskipun bisa inden, kamera ini baru akan dikirim awal 2012, tapi waktunya belum jelas, hasil fotonya hanya bisa di import dengan komputer Mac, untuk windows, belum jelas kapan disediakan software pendukungnya. ternyata hanya terima pengiriman di Amerika Serikat saja, bagaimana dengan anda kapan akan mencoba Kamera Lytro yang dapat Mengubah Fokus Setelah Mengambil Gambar.
Rabu, 01 Februari 2012
Gua Payaman Tempat Wisata yang Nyaman
Gua Payaman sebagai Tempat Wisata yang Nyaman itulah tujuan warga sekitar Goa Payaman untuk mengelola tempat wisata, jelajah alam, hiking, dan sarana bumi perkemahan. Lokasi Goa Payaman terletak di bukit payaman dusun Polaman, Argorejo, Sedayu, Bantul, D.I Yogyakarta.
Untuk menuju Gua Payaman bisa melalui jalan wates, perempatan sedayu, tepatnya jl wates km 14. Kemudian ke selatan sejauh 3km atau kalo dari jogja belok kiri saja, aksesnya juga tidaklah sulit, semua jalan menuju Goa Payaman sudah dengan aspal maupun semen. Kalo masih kurang jelas cukup tanya saja arah menuju Gua Payaman, pasti warga akan menunjukkan, bahkan jika tidak ada keperluan mereka mau mengantarkan sampai mulut gua.
Goa Payaman dikelola oleh sekelompok anak muda yang peduli lingkungan dan pengembangan dusun dengan label Payaman Managemen. Kelompok pemuda itu kemudian mengembangkan potensi dengan membuka Bumi Perkemahan seluas tiga hektar, dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum dan sarana pendukung lainnya, termasuk air bersih yang disalurkan dari sendang dan belik di sekitarnya, dan setelah di buka sekitar setaun lebih yang lalu Goa Payaman sudah sering digunakan untuk camping beberapa SD di Jogja dan Sleman, kalo tidak percaya silahkan lihat saja di blog goapayaman.wordpress.com
Goa Payaman dan Bumi Perkemahan terletak tidak berjauhan, dan keduanya dijadikan satu sebagai lokasi wisata edukasi, wisata sejarah, dan religi. Kedalaman lorong Goa Payaman sekitar tujuh meter. Terletak di tanahnya Ngadiman yang sekaligus sebagai Juru Kunci.
Selain Goa Payaman, di sekitar juga ada beberapa situs lainnya yaitu Gua Lanang, Watu Payung, Sendang Aneh, Sendang Payaman Wadon, Sendang Payaman Lanang. Konon Air dari dari Sendang Aneh tidak akan mendidih jika dimasak tidak dengan kayu bakar dari pohon sekitar Sendang. Masih ada lagi yaitu watu uyuh, begitulah warga menyebunya, watu artinya batu, uyuh artinya air kencing, berupa dinding batu putih yang berasa asin.
ingin mencari Tempat Wisata yang Nyaman? datang saja ke Gua Payaman
Sumber : Teguh – Minggu Pagi No 42 th 64
baca selengkapnya >>>
Goa Payaman dikelola oleh sekelompok anak muda yang peduli lingkungan dan pengembangan dusun dengan label Payaman Managemen. Kelompok pemuda itu kemudian mengembangkan potensi dengan membuka Bumi Perkemahan seluas tiga hektar, dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum dan sarana pendukung lainnya, termasuk air bersih yang disalurkan dari sendang dan belik di sekitarnya, dan setelah di buka sekitar setaun lebih yang lalu Goa Payaman sudah sering digunakan untuk camping beberapa SD di Jogja dan Sleman, kalo tidak percaya silahkan lihat saja di blog goapayaman.wordpress.com
Goa Payaman dan Bumi Perkemahan terletak tidak berjauhan, dan keduanya dijadikan satu sebagai lokasi wisata edukasi, wisata sejarah, dan religi. Kedalaman lorong Goa Payaman sekitar tujuh meter. Terletak di tanahnya Ngadiman yang sekaligus sebagai Juru Kunci.
Selain Goa Payaman, di sekitar juga ada beberapa situs lainnya yaitu Gua Lanang, Watu Payung, Sendang Aneh, Sendang Payaman Wadon, Sendang Payaman Lanang. Konon Air dari dari Sendang Aneh tidak akan mendidih jika dimasak tidak dengan kayu bakar dari pohon sekitar Sendang. Masih ada lagi yaitu watu uyuh, begitulah warga menyebunya, watu artinya batu, uyuh artinya air kencing, berupa dinding batu putih yang berasa asin.
ingin mencari Tempat Wisata yang Nyaman? datang saja ke Gua Payaman
Sumber : Teguh – Minggu Pagi No 42 th 64
Senin, 30 Januari 2012
Gua Sioyot Wisata Alam Stalagtit Stalagmit di Jogja
Goa Sioyot merupakan Wisata Alam Caving Susur Goa yang dipenuhi Stalakmit Stalaktit yang masih asri, gua ini dialiri air walaupun tidak dalam, paling dalam hanya setinggi dada orang dewasa. Gua Sioyot berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Di desa yang terletak di sebelah utara Kota Wonosari menyuguhkan potensi keindahan alam, salah satunya Petualangan Ekstrim Goa Sioyot, lokasinya berdekatan dengan Goa Pindul, satu sekretariat. Seperti yang ada dalam artikel blog wirawisata.blogspot.com, Sesampainya dilokasi, akan dipandu untuk masuk ke dalam goa. Memasuki Gua Sioyot harus merangkak karena jalan masuknya sempit dan rendah, kalo berdiri tidak bisa, jadi haruslah dipikirkan lagi ketika masuk ke dalam, saya sarankan yang punya penyakit boyok maupun encok jangan masuk ya..
Setelah masuk, akan mendapati permukaan goa yang berair sedangkan sebagian lagi kering karena permukaan goa berbeda tingginya. setelah masuk diharuskan untuk melewati air sampai ke dada, jadi siap siap lah bawa pakaian dobel
Ketika sudah masuk dalam gua akan menemukan keindahan pemandangan alam yang dipenuhi oleh stalagmit dan stalagtit aktif, yaitu; puting, jantan, tirai, soko guru, jangan kaget kalo mendengar suara gemuruh derasnya air terjun, tapi jika dicari tidak akan menemukan dimana letaknya.
Setelah sekitar 900 meter berjalan, akan diberi waktu untuk beristirahat maupun mengabadikan keindahan alam sekitar dengan kamera.
Perjalanan selanjutnya sekitar 500 meter, akan menemukan ruang yang luas dan dipenuhi dipenuhi oleh stalagtit yang indah. Tidak terasa kok udah sampai ujung dan perjalanan berakhir.
Itulah yang saya kutip dari blognya jogjawisatakita.blogspot.com, menurut info panjang lintasan caving di Gua Sioyot adalah 1000-1500 meter dan dapat ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Jadi Kapan mau ke Goa Sioyot?
baca selengkapnya >>>
![]() |
| Goa Sioyot - sumber: wirawisata.blogspot.com |
Setelah masuk, akan mendapati permukaan goa yang berair sedangkan sebagian lagi kering karena permukaan goa berbeda tingginya. setelah masuk diharuskan untuk melewati air sampai ke dada, jadi siap siap lah bawa pakaian dobel
Ketika sudah masuk dalam gua akan menemukan keindahan pemandangan alam yang dipenuhi oleh stalagmit dan stalagtit aktif, yaitu; puting, jantan, tirai, soko guru, jangan kaget kalo mendengar suara gemuruh derasnya air terjun, tapi jika dicari tidak akan menemukan dimana letaknya.
![]() |
| Goa Sioyot - sumber: wirawisata.blogspot.com |
Setelah sekitar 900 meter berjalan, akan diberi waktu untuk beristirahat maupun mengabadikan keindahan alam sekitar dengan kamera.
Perjalanan selanjutnya sekitar 500 meter, akan menemukan ruang yang luas dan dipenuhi dipenuhi oleh stalagtit yang indah. Tidak terasa kok udah sampai ujung dan perjalanan berakhir.
Itulah yang saya kutip dari blognya jogjawisatakita.blogspot.com, menurut info panjang lintasan caving di Gua Sioyot adalah 1000-1500 meter dan dapat ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Jadi Kapan mau ke Goa Sioyot?
Kamis, 26 Januari 2012
Kamera Analog Jogjakarta hunting Balerante
Beberapa hari kemarin teman teman Kamera Analog Jogja mengadakan hanting bersama ke kaki Merapi, yaitu sekitar Balerante, Bebeng, Kalitengah Lor.
Sedikit mengingat kejadian akhir tahun 2010 yaitu masa dimana Gunung Merapi sedang “Punya Gawe” ditandai dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, banyak harta benda dan korban jiwa yang tidak terselamatkan di desa desa sekitar kaki gunung merapi, beberapa diantaranya desa desa di kelurahan Balerante dan Glagaharjo yang berada di antara kali Gendol dan kali Woro.
Minggu tanggal 28 November 2011 kemaren, teman teman Kamera Analog Jogja mendatangi beberapa desa di lereng tenggara Gunung Merapi. Berawal dari keingintahuan kondisi di sana pasca erupsi meskipun sudah berlangsung setahun yang lalu, dan setelah dirembug dalam acara Panjat Makam akhirnya diputuskan kami berangkat pagi. Lumayan juga yang ikut, ada Taufan Kharis, Adnan Rusdi, Mamox F Widayat, Munier Winarto, Hagni Bakti, Tio, mbak Tina, Wirawan Arie, Teemo Helly, Andreas Hemawan, dan Y Dwi SN
Tempat pertama yang kami tuju ialah di lereng kali Woro, pojok timur dusun Sambungrejo, desa Balerante. Sambungrejo ialah dusun paling atas di balerante. Ketika terjadi erupsi merapi dusun ini masih tetap berdiri, meskipun rusak parah, karena adanya bukit kendil di atasnya aliran material merapi tidak mengarah di desa ini, hanya awan panas, lain jika dibanding dengan Kinahrejo, Kaliadem dan dusun lainnya yang rata rumahnya karena material kelas berat.
Di lereng Kali Woro di desa Balerante, bisa melihat desa desa dibawahnya, tebing kali woro, dan tentunya puncak merapi di sebelah utara, sayangnya ketika kami di sana puncak merapi tertutup kabut. Tumbuh tumbuhan di sini sudah hijau kembali, dan aktivitas warga sejauh ini sudah berjalan normal, rumah-rumah juga sudah berdiri kokoh dan tidak terlihat lagi kerusakan-kerusakan seperti dahulu. Karena dirasa sudah cukup, kami pindah ke bagian barat, menembus dusun Sambungrejo dan Ngipiksari, yang berada di Klaten, kemudian kami masuk dusun sebelahnya yaitu Kalitengah Lor, yang berada di D.I.Yogyakarta.
Dengan mengikuti jalan utama di dusun Kalitengah Lor, kami ke utara dan akhirnya kami sampai di sekitar mata air Bebeng, disana ada pos pengamat, ada warung, dan tentunya ada pemandangan alam yang harus dinikmati. Karena belum sarapan akhirnya kami minum dulu dan ngemil di warung tersebut, sambil ngobrol-ngobrol bareng, tentunya tidak hanya seputar kamera saja, ada curhat curhatan juga lho. Setelah puas menikmati santapan di warung tersebut, kami naik ke pos pengamatan, eh lupa…tentunya bayar dulu di warung. Dari pos pengamatan semakin tinggi lagi dan semakin lebar juga sudut pandangnya, tapi lebarnya sudut pandang tidak diikuti lebar lensa yang ada pada kamera. Jepret sana jepret sini akhirnya kami merencanakan untuk turun, pindah lagi.
Ketika turun saya sempat terpisah dengan teman-teman lainnya, ternyata yang lain sedang menunggu Mas.Tio lagi balik lagi mengambil tas yang sempat tertinggal di warung. Karena lama menunggu akhirnya saya masuk ke pemakaman mbah Maridjan, yang berada di belakang Masjid dusun Srunen dengan melalui jalan utama di desa tersebut. Kemudian ke selatan dan melewati desa Singlar, yang sebagian rumahnya sudah rata tertimbun material merapi yang meluap dari kali gendol, di desa ini banyak aktivitas penambang pasir, dan memang seperti gurun pasir. Akhirnya kami berhenti di suatu tempat dekat pohon berwarna coklat karena bagian kulitnya tidak ada karena panasnya material merapi, dan tidak ada daunnya, dengan bagian bawah sudah tertimbun pasir setinggi sekitar 3 meter, dan yang pasti masih berdiri kokoh. Kami duduk duduk di sekitar pohon tersebut, ngobrol ngobrol, mengabadikan gambar di sekitarnya. Dengan duduk di samping pohon saya jadi termenung karena teringat dan membayangkan kondisi saat awal November 2010 yang lalu.
Dan ternyata sudah sekitar jam 2 siang, memang tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan kami pulang dengan melalui dam gendol di dusun bronggang suruh, di sana banyak juga aktivitas penambang pasir, wisatawan, ada batu besar yang berada di tengah dam tersebut, dan itu memang tidak akan dipindahkan, dari setaun lalu sudah berdiri di sana.
Oh iya ini ada sedikit majalah dari Kamera Analog Jogjakarta tiap 2 bulan terbit. Dan foto lainnya balerante ada di edisi 8
baca selengkapnya >>>
![]() |
| Kali Woro dari Balerante | foto: Teemo helly |
Minggu tanggal 28 November 2011 kemaren, teman teman Kamera Analog Jogja mendatangi beberapa desa di lereng tenggara Gunung Merapi. Berawal dari keingintahuan kondisi di sana pasca erupsi meskipun sudah berlangsung setahun yang lalu, dan setelah dirembug dalam acara Panjat Makam akhirnya diputuskan kami berangkat pagi. Lumayan juga yang ikut, ada Taufan Kharis, Adnan Rusdi, Mamox F Widayat, Munier Winarto, Hagni Bakti, Tio, mbak Tina, Wirawan Arie, Teemo Helly, Andreas Hemawan, dan Y Dwi SN
![]() |
| Hulu Kali Woro dan Merapi yang tertutup Awan | foto : teemo helly |
Di lereng Kali Woro di desa Balerante, bisa melihat desa desa dibawahnya, tebing kali woro, dan tentunya puncak merapi di sebelah utara, sayangnya ketika kami di sana puncak merapi tertutup kabut. Tumbuh tumbuhan di sini sudah hijau kembali, dan aktivitas warga sejauh ini sudah berjalan normal, rumah-rumah juga sudah berdiri kokoh dan tidak terlihat lagi kerusakan-kerusakan seperti dahulu. Karena dirasa sudah cukup, kami pindah ke bagian barat, menembus dusun Sambungrejo dan Ngipiksari, yang berada di Klaten, kemudian kami masuk dusun sebelahnya yaitu Kalitengah Lor, yang berada di D.I.Yogyakarta.
![]() |
| Gardu Pandang di Dekat Mata Air Bebeng | foto : taufan kharis |
Dengan mengikuti jalan utama di dusun Kalitengah Lor, kami ke utara dan akhirnya kami sampai di sekitar mata air Bebeng, disana ada pos pengamat, ada warung, dan tentunya ada pemandangan alam yang harus dinikmati. Karena belum sarapan akhirnya kami minum dulu dan ngemil di warung tersebut, sambil ngobrol-ngobrol bareng, tentunya tidak hanya seputar kamera saja, ada curhat curhatan juga lho. Setelah puas menikmati santapan di warung tersebut, kami naik ke pos pengamatan, eh lupa…tentunya bayar dulu di warung. Dari pos pengamatan semakin tinggi lagi dan semakin lebar juga sudut pandangnya, tapi lebarnya sudut pandang tidak diikuti lebar lensa yang ada pada kamera. Jepret sana jepret sini akhirnya kami merencanakan untuk turun, pindah lagi.
Ketika turun saya sempat terpisah dengan teman-teman lainnya, ternyata yang lain sedang menunggu Mas.Tio lagi balik lagi mengambil tas yang sempat tertinggal di warung. Karena lama menunggu akhirnya saya masuk ke pemakaman mbah Maridjan, yang berada di belakang Masjid dusun Srunen dengan melalui jalan utama di desa tersebut. Kemudian ke selatan dan melewati desa Singlar, yang sebagian rumahnya sudah rata tertimbun material merapi yang meluap dari kali gendol, di desa ini banyak aktivitas penambang pasir, dan memang seperti gurun pasir. Akhirnya kami berhenti di suatu tempat dekat pohon berwarna coklat karena bagian kulitnya tidak ada karena panasnya material merapi, dan tidak ada daunnya, dengan bagian bawah sudah tertimbun pasir setinggi sekitar 3 meter, dan yang pasti masih berdiri kokoh. Kami duduk duduk di sekitar pohon tersebut, ngobrol ngobrol, mengabadikan gambar di sekitarnya. Dengan duduk di samping pohon saya jadi termenung karena teringat dan membayangkan kondisi saat awal November 2010 yang lalu.
![]() | ||
Tambang Pasir Kali Gendol | foto : Taufan Kharis
|
Minggu, 15 Januari 2012
Keindahan Padas di Balik Jernihnya Air Sungai Batang Magelang
Memang sungguh memanjakan mata melihat Keindahan Padas di Balik Jernihnya Air Sungai Batang, desa Pakunden, Ngluwar, Magelang. Tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang indah, tetapi lokasinya juga sangat nyaman, ada beberapa warga sekitar yang sedang beraktifitas, dan memang lokasinya berada di pinggir jembatan, dan dekat dengan perbatasan Sleman.
Berawal ketika pulang dari magelang, tidak sengaja ternyata saya tidak membawa STNK motor AD2668AL, wah memang setelah ibu telepon mengabari kalo STNK berada dirumah, perjalanan jadi semakin waspada, daripada uang melayang ya cari jalan aman saja, tidak melalui jalan utama magelang-yogyakarta, tetapi melalui jalan kecil-kecil, susah dijelaskan dan akhirnya tembus mungkid, candi mendud masuk, melalui CitraElo, dan keselatan lagi melewati jembatan Kali Progo atau yang disebut Ancol, yang berada di daerah bligo. Karena sudah terbiasa setelah jembatan mengambil jalan yang kanan, akhirnya saya ambil yang kiri saja, kan belum pernah..hihi..
Muter muter dan berlagak sok tahu akhirnya melalui jalan kecil, katanya salah seorang warga sih jalan sidatan/pintas dari bligo-ngluwar. Untuk menuju ke kali batang paling tepat ialah modal mental dulu, harus berani bertanya. Rute ini juga hampir sejalan kalo mau ke Sendang Sono.
Perjalanan bisa di mulai dari Terminal Jombor, jalan utama magelang-jogja masuk saja jalan samping terminal jombor, ikuti jalan tersebut maka akan sampai pertigaan serong, silahkan ambil kiri, jangan kanan lho, kalo mau ke jalan jogja-magelang ya gpp. Setelah kiri, dan mengikuti jalan besar tersebut maka akan sampai perempatan Pasar Cebongan, jika ambil kanan akan ke pasar sleman, kalo ambil kiri akan sampai ke gamping, maka ambil yang lurus saja, 400m an ada pertigaan kiri, maju dikit 200m an ada pertigaan kanan, dan seperti biasa, ikuti jalan tersebut sampai ke perempatan Seyegan, yang di samping kecamatan Seyegan, ikuti jalan yang arahnya ke tempel, (kalo belum tahu tanya arah ke bligo) tapi nanti setelah sampai pertigaan besar perpotongan jalan ke tempel atau ke minggir, ambil yang arah minggir saja, cuma maju kira-kira 1 km ada pertigaan lagi, silahkan masuk, jika benar maka akan melwati jembatan Kali Krasak yang merupakan perbatasan antara Magelang, Jawa Tengah dan Sleman, D.I. Yogyakarta, atau sebaiknya tanya saja jembatan tersebut dari seyegan tadi.
Kemudian yang jadi pedoman ialah Tugu tengah jalan di bligo, atau yang disebut tugu bligo, dari arah jembatan krasak tadi kira kira 3 km akan sampai tugu bligo, lurus saja, setelah tugu pelan pelan ya, tidak sampai 1 km akan menemui jembatan sungai batang, yang dibawahnya ada pemandangan menarik, di sebelah kanan jalan.
Saya anggap kalian sudah sampai sana ya, perlu diingat, jembatan sungai batang desa pakunden. Di bawah jembatan memang nuansa yang damai, bunyi air yang gemercik dan keramahan warga sekitar yang beraktifitas. Air yang mengalir sangat bening / jernih, batu-batuan yang besar, dan padas-padas yang lunak berwarna kuning membuat saya jadi betah di sana, pohon pohonan yang rindang, udara sejuk segar. Saya pun juga sempat meminum air yang mengalir dari tanah, dan sudah terbukti hari ini sudah hari ke empat pencernaan saya tidak bermasalah.
Setahun yang lalu kata seorang ibu yang sedang mengambil pasir / gesik di situ, pasirnya lumayan tinggi, sampai batu yang tingginya hampir 2 meter menjadi tidak terlihat, karena ditambang, dan air mengalir terus maka sekarang jadi sedikit. Ada pula seorang bapak ditemani cucunya yang sedang mengambil batu kecil alias kerikil (keri neng sikil) ;keri = geli dalam bhs.indonesia; katanya kalo pagi banyak aktifitas warga menambang batu dan pasir. Ada pula beberapa orang yang sedang duduk duduk berteduh di samping jembatan pinggir jalan.
Sangat disayangkan, saya tidak membawa kamera yang ada setingan manual speed maupun diafragmanya, teman saya pun juga tidak membawa, untuk slowspeed an mantap lho, background nya juga buat foto model jadi bagus, basah basahan kalo bisa, untuk makro juga ada hewan aneka hewan kecil, apalagi untuk bokeh bokehan pohon maupun bokeh pantulan air juga oke, akhirnya Keindahan Padas di Balik Jernihnya Air Sungai Batang Magelang ya cukup diabadikan pake kamera hp saja, memanfaatkan yang ada.
baca selengkapnya >>>
| Padas Lunak ataukah tanah liat ya... aliran air yang jernih tampak segar |
Berawal ketika pulang dari magelang, tidak sengaja ternyata saya tidak membawa STNK motor AD2668AL, wah memang setelah ibu telepon mengabari kalo STNK berada dirumah, perjalanan jadi semakin waspada, daripada uang melayang ya cari jalan aman saja, tidak melalui jalan utama magelang-yogyakarta, tetapi melalui jalan kecil-kecil, susah dijelaskan dan akhirnya tembus mungkid, candi mendud masuk, melalui CitraElo, dan keselatan lagi melewati jembatan Kali Progo atau yang disebut Ancol, yang berada di daerah bligo. Karena sudah terbiasa setelah jembatan mengambil jalan yang kanan, akhirnya saya ambil yang kiri saja, kan belum pernah..hihi..
| Ancol Bligo, membagi air Kali Progo untuk irigasi, debit lumayan besar. |
Muter muter dan berlagak sok tahu akhirnya melalui jalan kecil, katanya salah seorang warga sih jalan sidatan/pintas dari bligo-ngluwar. Untuk menuju ke kali batang paling tepat ialah modal mental dulu, harus berani bertanya. Rute ini juga hampir sejalan kalo mau ke Sendang Sono.
Perjalanan bisa di mulai dari Terminal Jombor, jalan utama magelang-jogja masuk saja jalan samping terminal jombor, ikuti jalan tersebut maka akan sampai pertigaan serong, silahkan ambil kiri, jangan kanan lho, kalo mau ke jalan jogja-magelang ya gpp. Setelah kiri, dan mengikuti jalan besar tersebut maka akan sampai perempatan Pasar Cebongan, jika ambil kanan akan ke pasar sleman, kalo ambil kiri akan sampai ke gamping, maka ambil yang lurus saja, 400m an ada pertigaan kiri, maju dikit 200m an ada pertigaan kanan, dan seperti biasa, ikuti jalan tersebut sampai ke perempatan Seyegan, yang di samping kecamatan Seyegan, ikuti jalan yang arahnya ke tempel, (kalo belum tahu tanya arah ke bligo) tapi nanti setelah sampai pertigaan besar perpotongan jalan ke tempel atau ke minggir, ambil yang arah minggir saja, cuma maju kira-kira 1 km ada pertigaan lagi, silahkan masuk, jika benar maka akan melwati jembatan Kali Krasak yang merupakan perbatasan antara Magelang, Jawa Tengah dan Sleman, D.I. Yogyakarta, atau sebaiknya tanya saja jembatan tersebut dari seyegan tadi.
| Mau Bawa Model untuk berbasah basahan sepertinya juga cocok, cocok hot nya, hihi... |
Kemudian yang jadi pedoman ialah Tugu tengah jalan di bligo, atau yang disebut tugu bligo, dari arah jembatan krasak tadi kira kira 3 km akan sampai tugu bligo, lurus saja, setelah tugu pelan pelan ya, tidak sampai 1 km akan menemui jembatan sungai batang, yang dibawahnya ada pemandangan menarik, di sebelah kanan jalan.
Saya anggap kalian sudah sampai sana ya, perlu diingat, jembatan sungai batang desa pakunden. Di bawah jembatan memang nuansa yang damai, bunyi air yang gemercik dan keramahan warga sekitar yang beraktifitas. Air yang mengalir sangat bening / jernih, batu-batuan yang besar, dan padas-padas yang lunak berwarna kuning membuat saya jadi betah di sana, pohon pohonan yang rindang, udara sejuk segar. Saya pun juga sempat meminum air yang mengalir dari tanah, dan sudah terbukti hari ini sudah hari ke empat pencernaan saya tidak bermasalah.
| Mas Frederick M.Yudha ngombe air tanah yang kami rasa bersih, hehe.. seger lho |
Setahun yang lalu kata seorang ibu yang sedang mengambil pasir / gesik di situ, pasirnya lumayan tinggi, sampai batu yang tingginya hampir 2 meter menjadi tidak terlihat, karena ditambang, dan air mengalir terus maka sekarang jadi sedikit. Ada pula seorang bapak ditemani cucunya yang sedang mengambil batu kecil alias kerikil (keri neng sikil) ;keri = geli dalam bhs.indonesia; katanya kalo pagi banyak aktifitas warga menambang batu dan pasir. Ada pula beberapa orang yang sedang duduk duduk berteduh di samping jembatan pinggir jalan.
| Aliran air yang jernih, dengan dasar kuning karena warna padas |
| Mas Frederick M. Yudha sedang persiapan mau ritual siben |
Sangat disayangkan, saya tidak membawa kamera yang ada setingan manual speed maupun diafragmanya, teman saya pun juga tidak membawa, untuk slowspeed an mantap lho, background nya juga buat foto model jadi bagus, basah basahan kalo bisa, untuk makro juga ada hewan aneka hewan kecil, apalagi untuk bokeh bokehan pohon maupun bokeh pantulan air juga oke, akhirnya Keindahan Padas di Balik Jernihnya Air Sungai Batang Magelang ya cukup diabadikan pake kamera hp saja, memanfaatkan yang ada.
Rabu, 11 Januari 2012
Ogoh Ogoh Setan di Saparan Bekakak Yogyakarta
Ogoh Ogoh Setan di Upacara Adat Saparan Bekakak 2012 menjadi daya tarik bagi warga / masyarakat sekitar, selain ogoh ogoh ada pula pentas seni dan pakaian adat yang kental dengan kebudayaan jawa.
Diselenggarakan pada setiap hari Jum'at yang mendekati tanggal 15 bulan sapar (bulan jawa), mengenang kesetiaan Ki Wiro Suto terhadap Sri Sultan HB I
Tak lupa pula para fotografer maupun penikmat foto seperti saya juga akan mendatangi lokasi tersebut, pada hari jumat tanggal 13 Januari 2012 di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Posisinya berada di sebelah barat pasar gamping, utara jalan utama jogja-wates. Dari Lapangan Ambarketawang diarak melalui ringroad / jalan lingkar barat, kemudian masuk ke desa Gunung Gamping yang berada di selatan Ambarketawang.
info lebih lanjut bisa kalian like Facebook Saparan Bekakak
foto foto Upacara Adat Saparan Bekakak nya menyusul ya...dan perlu diingat setelah bekakak pasti akan ada Grebeg Maulud Sekaten Kraton Yogyakarta
baca selengkapnya >>>
![]() |
| Ogoh Ogoh Bekakak - FM10 + Kodak Color 200 |
![]() |
| Gunungan di saparan bekakak - Nikon FM10 + Kodak + Tokina 28-210 f3.3-5.6 |
Tak lupa pula para fotografer maupun penikmat foto seperti saya juga akan mendatangi lokasi tersebut, pada hari jumat tanggal 13 Januari 2012 di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Posisinya berada di sebelah barat pasar gamping, utara jalan utama jogja-wates. Dari Lapangan Ambarketawang diarak melalui ringroad / jalan lingkar barat, kemudian masuk ke desa Gunung Gamping yang berada di selatan Ambarketawang.
info lebih lanjut bisa kalian like Facebook Saparan Bekakak
foto foto Upacara Adat Saparan Bekakak nya menyusul ya...dan perlu diingat setelah bekakak pasti akan ada Grebeg Maulud Sekaten Kraton Yogyakarta
Senin, 02 Januari 2012
Download Gratis Majalah Focus Magazine dari LensaManual.net
Focus Magazine ialah Majalah Elektronik dari LensaManual.net yang bisa didapatkan secara Gratis dengan men download melalui link dibawah ini. Dilihat dari namannya saja sudah jelas majalah ini berisi seputar fotografi alias photography khususnya tentang Lensa Manual. Langsung saja linknya...
Masih ada lagi nih free magazine / majalah gratis lainya, namanya Majalah Ruang Gelap dari Kamera Analog Jogjakarta
baca selengkapnya >>>
- Focus Magazine Edisi 1 Love to Focus Manually
- Focus Magazine Edisi 2 Get Max With Your Gears
Masih ada lagi nih free magazine / majalah gratis lainya, namanya Majalah Ruang Gelap dari Kamera Analog Jogjakarta
Rabu, 28 Desember 2011
Nuansa Pantai Pemandangan Kali Progo
Memang setalah erupsi merapi sungai sungai yang berhulu di kaki merai jadi melimpah materialnya, nuansa pantai pemandangan di kali progo menjadi daya tarik sendiri bagi mereka yang tidak kesampaian pergi ke pantai. Sungai Progo ini menjadi pembatas di kabupaten Kulon Progo, kulon berarti barat.
Berawal ketika kemaren ke rumahnya seorang teman di dusun Jomboran, desa SendangAgung, kecamatan Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebenarnya hanya ingin silaturahmi saja, eh ternyata ada saudara dari tetangga yang sedang jalan melewati rumah, dengan spontan saya tanya mau kemana, eh mau ke sungai progo, loh kok jalan kaki?, ternyata cuma belakang rumahnya teman, kemudian saya langsung ikut ke sungai.
Jalan untuk turun cukup curam, namun mudah saja untuk menuruninya. Hamparan pasir luas, dengan tebing di arah yang berlawanan, dan batas antara air dan pasir, menjadikan panorama di sungai progo ini nampak bagus, pohon pohon kelapa di seberang sungai, dan view pegunungan sekitar mboro atau sendang sono juga menambah keindahan alam, rumput rumput yang hijau di atas sungai menjadikan daerah ini nampak segar meskipun di sungai progo terlihat gersang, bisa juga untuk main bola, atau sekedar menghabiskan waktu menikmati nuansa alam sungai progo, dan tentunya untuk berfoto foto ria, background foto model maupun objek objek sekitarnya seperti batu, pasir, sampah, pohon, maupun hewan lainnya.
Tapi sayangnya saya tidak membawa kamera analog, yang dibawa hanya digital saja, jadilah beberapa jepret untuk mengabadikan gambar.
Jika masih merasa kurang dalam penyajian gambar nuansa pantai kali progo silahkan datang sendiri, hehe dan bisa disimpulakan jika ingin datang cari saja jalur sungai yang tidak lurus, ada belok beloknya dikit
baca selengkapnya >>>
Berawal ketika kemaren ke rumahnya seorang teman di dusun Jomboran, desa SendangAgung, kecamatan Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebenarnya hanya ingin silaturahmi saja, eh ternyata ada saudara dari tetangga yang sedang jalan melewati rumah, dengan spontan saya tanya mau kemana, eh mau ke sungai progo, loh kok jalan kaki?, ternyata cuma belakang rumahnya teman, kemudian saya langsung ikut ke sungai.
Tapi sayangnya saya tidak membawa kamera analog, yang dibawa hanya digital saja, jadilah beberapa jepret untuk mengabadikan gambar.
![]() |
| hanya sekedar tenguk tenguk bersama keluarga |
lagi lagi dengan model yang seperti biasanya |
Selasa, 13 Desember 2011
Jembatan Gantung dan Gunung Api Purba di Patuk Gunungkidul
Jembatan Gantung dan Gunung Api Purba di Patuk Gunungkidul Yogyakarta merupakan wisata alam yang berdekatan, dua lokasi ini menyuguhkan pemandangan yang masih alami, berupa padas karst, vegetasi, aliran air, sangat cocok untuk lokasi menyalurkan hoby fotografi, ( foto model, pra wedding, slowspeed / bulp aliran air, makro serangga maupun bunga ) atau sekedar menikmati saja.
Ini sebenarnya tahunya sudah hampir 2 taun yang lalu, awal bulan pada 2010 lalu bersama 2 orang konco alias teman, berangkat dari klaten, melalui gantiwarno, kemudian naik melalui Gayamharjo, tepatnya jalan ketika mau menuju di Sendang Sriningsih, njali. Pulang melalui jogja. Dulu belum kepikiran nge'share di blog, dan baru sekarang.
Jembatan Gantung yang kurang tau namanya ini, terletak di desa ngoro-oro, nama dusunnya kurang tau, yang jelas jembatan ini terkenal di sekitar warga, maklum kan kalo orang desa ditanya tempat dengan radius yang jaraknya banyak kilometer pasti tahu, saya sendiri pernah tanya seorang anak kecil siswa SMP PL Gantiwarno (ini letaknya masih di bawah bukit lho), dengan tegas dia menjawab "Yo ngerti nuh mas, kana kae lho", wah kirain dekat, eh ternyata setelah dicari rutenya ya lumayan dekat juga, kira kira 30 menit dari mulai mendaki bukti melalui perbatasan Gantiwarno-Sleman, kalo sudah pernah di Gua Maria Sendang Sriningsih ya tinggal naiki saja bukit diselatannya. Rutenya susah dijelaskan, soalnya beloknya sana sini pedomannya susah dijelaskan, dan pastilah setelah menaiki bukit bisa menikmati keindahan alam, mantap pokokke.
Sekilas Tentang Desa Ngoro-oro, desa ini berada di kecamatan patuk, dan didirikan beberapa Tower Stasiun Pemancar Ulang Stasiun Televisi, kalo lihat arah selatan (dari klaten), ato lihat arah timur/tenggara (dari jogja) ada beberapa lampu merah kelap kelip yang berdiri di beberapa tower ya itulah desa ngoro-oro.
Lanjut lagi ceritanya, untuk menuju lokasi tersebut bisa dilalui melalui jalan utama patuk gunungkidul, jalan yang menghubungkan jogja dengan wonosari, pasar piyungan naik, nanti melewati Bukit Bintang / Argo Dumilah kata orang-orang gitu seh, kemudian sampai di atas ada Perempatan yang menikung satu jalan sisi kiri tidak begitu besar, sebelah kanan lumayan lebih besar, dan dekat kantor polisi. Nah ketika sampai di situ belok kiri saja, ada petunjuknnya juga tulisan Gunung Api Purba, kemudian ikuti jalan tersebut (utara), ikuti saja nanti akan melewati desa ngoro-oro, dan melewati tower tower pemancar. Setelah melewati tower pemancar ikuti saja jalan tersebut maka akan ada perempatan yang lumayan besar, tapi yang sisi kiri jalannya lebih kecil dari jalan yang membelah desa ngoro-oro, yang sisi kanan jalannya besar.
Jika ingin ke Jembatan Gantung ambil yang kiri, ikuti saja jalan tersebut, dan sangat disarankan gunakan motor dengan mesin dan rem yang bekerja sempurna, jangan kayak motor yang saya pakai, karena tidak bisa nge'rem banting saja ke pelataran warga. Ini jalanya lumayan juga dengan sudut kemiringan sekian derajat, haha ukur aja sendiri. Ya kira kira 1km dari perempatan akan sampai juga di jembatan gantung, oh iya ini mobil bisa masuk sampai ke samping jembatan gantung, tapi tidak bisa lewat diatasnya.
Jika ingin ke Gunung Api Purba desa Nglanggeran, dari perempatan tadi ambil yang kanan, kira kira 2 km akan sampai di kawasan Gunung Api Purba, dan yang harus diperhatikan ketika hujan ato setelah hujan harap hati-hati ya jika ingin naik, soale licin, pernah kepleset je..
Kembali lagi ke Jembatan Gantung, selain melalui patuk dan melalui klaten, masih ada jalan alternatif lain, yaitu melalui Desa Surogedug, desa ini juga dilewati jalan utama Prambanan-Piyungan, ataupun jalan alternatif yang dari Jalan Jogja-Solo Kalasan dekat RS.Panti Rini, sebelah barat Bangjo Kalasan, ataupun timur SPBU kalasan yang utara jalan. Dari prambanan maupun dari kalasan nanti akan bertemu di pertigaan SPBU yang berada di selatan Candi Boko, dari SPBU tersebut ke selatan saja, arah piyungan, nanti perempatan ke berapa ya? dua atau tiga, perhatikan rambu-rambu penunjuk arah di atas jalan, ada tulisan Surogedug arah kiri, lha setelah sampai perempatan kiri saja dan ikuti jalan, jalnnya lumayan lebar dan mulus kok, nanti ke timur dan nikung kanan kiri sehingga sampai tengah sawah, lurus terus, ada perempatan lurus terus, dan perhatikan perempatan sebelum tikungan ke kanan, ada Sekolahan apa gitu lupa namanya. dari perempatan tersebut belok kiri (timur), dan setelah 3km an nanti akan menaiki bukit, lagi lagi pemandangannya mantap lho, setelah menaiki bukit dan sampai atas ikuti saja jalan tersebut, jalannya masih mulus kok. Pedoman untuk ke arah Jembatan Gantung yaitu melalui pertigaan jalan mulus tersebut, tikungan jalan yang mulus mendekati 90 derajat, tapi lihat lurus ke depan siku tikungan tersebut ada jalan kecil menuju jembatan, ya itulah jalannya, dan ini lebih baik menggunakan motor yang aman, kalo mobil lebih baik melalui patuk saja. Kalo masih bingung tanya saja arah jembatan gantung, ngoro-oro pasti pada tau kok..ndeso gitu lho...
Oh iya, itu jembatan bagian ujung kawatnya sudah putus satu, jadi hati hati kalo di sana, dan jangan memberi beban diam di atas jembatan, kalo melintas jangan langsung banyak motor / banyak orang sekaligus
Jadi kamu kapan mau ke Jembatan Gantung dan Gunung Api Purba?
baca selengkapnya >>>
![]() |
| dari bawah jembatan gantung pake lensa 17mm, jadi terasa jembirnya |
Ini sebenarnya tahunya sudah hampir 2 taun yang lalu, awal bulan pada 2010 lalu bersama 2 orang konco alias teman, berangkat dari klaten, melalui gantiwarno, kemudian naik melalui Gayamharjo, tepatnya jalan ketika mau menuju di Sendang Sriningsih, njali. Pulang melalui jogja. Dulu belum kepikiran nge'share di blog, dan baru sekarang.
![]() |
| Mas Agung Pratnyawan karo Wahyu Handoko, perjalanan pulang sepul motor e mati. |
Jembatan Gantung yang kurang tau namanya ini, terletak di desa ngoro-oro, nama dusunnya kurang tau, yang jelas jembatan ini terkenal di sekitar warga, maklum kan kalo orang desa ditanya tempat dengan radius yang jaraknya banyak kilometer pasti tahu, saya sendiri pernah tanya seorang anak kecil siswa SMP PL Gantiwarno (ini letaknya masih di bawah bukit lho), dengan tegas dia menjawab "Yo ngerti nuh mas, kana kae lho", wah kirain dekat, eh ternyata setelah dicari rutenya ya lumayan dekat juga, kira kira 30 menit dari mulai mendaki bukti melalui perbatasan Gantiwarno-Sleman, kalo sudah pernah di Gua Maria Sendang Sriningsih ya tinggal naiki saja bukit diselatannya. Rutenya susah dijelaskan, soalnya beloknya sana sini pedomannya susah dijelaskan, dan pastilah setelah menaiki bukit bisa menikmati keindahan alam, mantap pokokke.
Sekilas Tentang Desa Ngoro-oro, desa ini berada di kecamatan patuk, dan didirikan beberapa Tower Stasiun Pemancar Ulang Stasiun Televisi, kalo lihat arah selatan (dari klaten), ato lihat arah timur/tenggara (dari jogja) ada beberapa lampu merah kelap kelip yang berdiri di beberapa tower ya itulah desa ngoro-oro.
![]() |
| pemancar relay stasiun televisi |
Jika ingin ke Jembatan Gantung ambil yang kiri, ikuti saja jalan tersebut, dan sangat disarankan gunakan motor dengan mesin dan rem yang bekerja sempurna, jangan kayak motor yang saya pakai, karena tidak bisa nge'rem banting saja ke pelataran warga. Ini jalanya lumayan juga dengan sudut kemiringan sekian derajat, haha ukur aja sendiri. Ya kira kira 1km dari perempatan akan sampai juga di jembatan gantung, oh iya ini mobil bisa masuk sampai ke samping jembatan gantung, tapi tidak bisa lewat diatasnya.
Jika ingin ke Gunung Api Purba desa Nglanggeran, dari perempatan tadi ambil yang kanan, kira kira 2 km akan sampai di kawasan Gunung Api Purba, dan yang harus diperhatikan ketika hujan ato setelah hujan harap hati-hati ya jika ingin naik, soale licin, pernah kepleset je..
![]() |
| ini di atas gunung api purba, tower ngoro-oro nampak meskipun kecil dan kurang jelas |
Kembali lagi ke Jembatan Gantung, selain melalui patuk dan melalui klaten, masih ada jalan alternatif lain, yaitu melalui Desa Surogedug, desa ini juga dilewati jalan utama Prambanan-Piyungan, ataupun jalan alternatif yang dari Jalan Jogja-Solo Kalasan dekat RS.Panti Rini, sebelah barat Bangjo Kalasan, ataupun timur SPBU kalasan yang utara jalan. Dari prambanan maupun dari kalasan nanti akan bertemu di pertigaan SPBU yang berada di selatan Candi Boko, dari SPBU tersebut ke selatan saja, arah piyungan, nanti perempatan ke berapa ya? dua atau tiga, perhatikan rambu-rambu penunjuk arah di atas jalan, ada tulisan Surogedug arah kiri, lha setelah sampai perempatan kiri saja dan ikuti jalan, jalnnya lumayan lebar dan mulus kok, nanti ke timur dan nikung kanan kiri sehingga sampai tengah sawah, lurus terus, ada perempatan lurus terus, dan perhatikan perempatan sebelum tikungan ke kanan, ada Sekolahan apa gitu lupa namanya. dari perempatan tersebut belok kiri (timur), dan setelah 3km an nanti akan menaiki bukit, lagi lagi pemandangannya mantap lho, setelah menaiki bukit dan sampai atas ikuti saja jalan tersebut, jalannya masih mulus kok. Pedoman untuk ke arah Jembatan Gantung yaitu melalui pertigaan jalan mulus tersebut, tikungan jalan yang mulus mendekati 90 derajat, tapi lihat lurus ke depan siku tikungan tersebut ada jalan kecil menuju jembatan, ya itulah jalannya, dan ini lebih baik menggunakan motor yang aman, kalo mobil lebih baik melalui patuk saja. Kalo masih bingung tanya saja arah jembatan gantung, ngoro-oro pasti pada tau kok..ndeso gitu lho...
Oh iya, itu jembatan bagian ujung kawatnya sudah putus satu, jadi hati hati kalo di sana, dan jangan memberi beban diam di atas jembatan, kalo melintas jangan langsung banyak motor / banyak orang sekaligus
![]() |
| dari atas jembatan sisi utara , lagi dipake buat mandi sapi |
![]() |
| sisi sebaliknya |
![]() |
| mau slospitan juga ada |
![]() |
| mau model juga boleh |
Jadi kamu kapan mau ke Jembatan Gantung dan Gunung Api Purba?
Kamis, 08 Desember 2011
Pesona Pantai Watu Kodok GunungKidul
Sudah tidak diragukan lagi wilayah Gunung Kidul memiliki pantai yang menyuguhkan pemandangan menarik, salah satunya Pantai Watu Kodok, yang terletak diantara Pantai Sepanjang dan Pantai Drini. Pantai ini baru dibuka oleh warga Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul Handayani pada tahun 2009.
Menurut informasi dari Gudeg.net dan catatansijeruk.blogspot.com, jalan menuju pantai ini masi kurang mulus, yah konblok yang sudah rusak gitu, fasilitas juga cukuplah, parkir ada meskipun minim, dan warung juga ada, penyewaan tikar pun ada, kalo dilihat dari kejahuan pantai ini sangat bagus, kanan kiri ada pegunungan kecil, utaranya ada sawah yang masih terlihat "galengannya" batasnya yang berkelak kelok.
Pantai ini memang jarang terjamah, saya sendiri juga belum pernah kesana, atau mungkin sudah tapi lupa nama nya, ah ora penting kalo lewat sudah sekitar 2008 dulu, yang terpenting ialah mencari hari yang luang dan menyiapkan uang plus dokumentasi untuk pergi ke Pantai Watu Kodok.
baca selengkapnya >>>
Menurut informasi dari Gudeg.net dan catatansijeruk.blogspot.com, jalan menuju pantai ini masi kurang mulus, yah konblok yang sudah rusak gitu, fasilitas juga cukuplah, parkir ada meskipun minim, dan warung juga ada, penyewaan tikar pun ada, kalo dilihat dari kejahuan pantai ini sangat bagus, kanan kiri ada pegunungan kecil, utaranya ada sawah yang masih terlihat "galengannya" batasnya yang berkelak kelok.
Pantai ini memang jarang terjamah, saya sendiri juga belum pernah kesana, atau mungkin sudah tapi lupa nama nya, ah ora penting kalo lewat sudah sekitar 2008 dulu, yang terpenting ialah mencari hari yang luang dan menyiapkan uang plus dokumentasi untuk pergi ke Pantai Watu Kodok.
![]() |
| Nganggo Potone Om Pius Cahyo N. Jati (iki wis nembung) |
![]() |
| Budi W - Gudeg.Net (nganggo urung nembung, wekekek) |
![]() |
| Budi W - Gudeg.Net (nganggo urung nembung, wekekek) |
Zeiss Ikon Contina IIa Kamera Ribet Penuh Sensasi
Zeiss Ikon Contina IIa dengan lensa Novicar Anastigmat 45mm f2,8 merupakan jajaran kamera yang dikeluarkan oleh Zeiss Ikon, Stuttgart, Jerman (1954-1956). Dalam menggunakan kamera Zeiss Ikon Contina ini membutuhkan kesabaran ekstra, soalnya proses untuk men-jepret sangat lah panjang. Kamera ini termasuk dalam kelas apa saya juga kurang paham, mungkin termasuk RF, tapi untuk mencari fokus tidak memakai sistem split 2 gambar seperti RF lainnya, kalo SLR jelas bukan.
Kamera ini memiliki bentuk yang unik dan klasik, warna logam copal slave yang mencolok, dan tidak begitu banyak makan tempat, suara shutternya renyah, mak cekrik.., speed maksimal mencapai 1/300, cantolan buat strapnya ga ada, repot juga kalo hanting membawa lebih dari satu kamera. Sistem metering nya tidak menggunakan baterai, jadi tidak usah bingung kehabisan setrum, saya sendiri kurang tahu memakai apa, denger-denger menggunakan selenium (CMIIW), kalo cahaya agak redup susah digunakan.
Cara menggunakan metering / ligh meter zeiss ikon contina ini cukup ikuti saja jarum penunjuk, pertama haruslah dibuka dahulu tutup sensornya, pencet saja pasti akan njepat kebuka. Kemudian atur asa atau din, mau pake berapa misalnya 100, tinggal puter saja bagian tengah. Kemudian putar linkaran luar yang ada angka 1 - 18, dan sesuaikan posisi jarum, jika sudah - panah merah akan menunuk angka 10 misalnya. Lihat bagian bawah lensa ada tulisan angka 1 - 18 merah, panah merah sesuaikan di angka 10 sesuai dengan metering yang atas. Kemudian perhatikan bagian atas lensa maka speed maupun diafragma akan sejajar. Oh iya untuk mengatur ring speed dan diafragma tuas atas lensa harus ditekan ya..
Masih ada lagi yang bikin ribet dalam menggunakan kamera ini, yaitu dalam mencari fokus objek, meskipun mengintip lewat viewfinder tetep aja fokus ga fokus ga ada bedanya. Dalam mencari fokus objek cukup simpel saja, harus tahu jarak kamera dan objeknya ketika sudah tinggal putar ring fokus menunjuk ke skala yang tercantum, misalnya jarak 9 feet ya sesuaikan saja, kalo skala meter ada di ring fokus bagian bawah.
Untuk mengatur counter penghitung roll film masih berapa jepret ada di sekitar shutter, biar tepat jika memasukkan film harus disetting dalam posisi nol dulu, dengan cara menekan ring luar shutter bagian hitam, dan memutar berlawanan dengan jarum jam. Jadi kalo mau boongin teman juga bisa dengan fitur ini, ketika kumpul kumpul diset saja ke angka 36, pasti kalo dipinjem aman dah, ga akan dijepret, hehe padahal film baru dipasang..
Jika saya ditanya mengapa mau mengambil gambar saja harus ribet dan susah? lha itu yang saya cari, yang mudah juga sudah pernah, apa salahnya coba yang susah, ini kan cuma kesenangan jadi hanya mencari rasa/taste/sesasi untuk diri sendiri saja, saya jg bukan seorang fotografer.
baca selengkapnya >>>
Cara menggunakan metering / ligh meter zeiss ikon contina ini cukup ikuti saja jarum penunjuk, pertama haruslah dibuka dahulu tutup sensornya, pencet saja pasti akan njepat kebuka. Kemudian atur asa atau din, mau pake berapa misalnya 100, tinggal puter saja bagian tengah. Kemudian putar linkaran luar yang ada angka 1 - 18, dan sesuaikan posisi jarum, jika sudah - panah merah akan menunuk angka 10 misalnya. Lihat bagian bawah lensa ada tulisan angka 1 - 18 merah, panah merah sesuaikan di angka 10 sesuai dengan metering yang atas. Kemudian perhatikan bagian atas lensa maka speed maupun diafragma akan sejajar. Oh iya untuk mengatur ring speed dan diafragma tuas atas lensa harus ditekan ya..
| metering kiri, counter kanan, tengah counter ada shutter |
| tuas pengatur diafragma di bagian kiri, f5.6 1/30, fokus di 5 feet |
| skala penunjuk metering |
Untuk mengatur counter penghitung roll film masih berapa jepret ada di sekitar shutter, biar tepat jika memasukkan film harus disetting dalam posisi nol dulu, dengan cara menekan ring luar shutter bagian hitam, dan memutar berlawanan dengan jarum jam. Jadi kalo mau boongin teman juga bisa dengan fitur ini, ketika kumpul kumpul diset saja ke angka 36, pasti kalo dipinjem aman dah, ga akan dijepret, hehe padahal film baru dipasang..
Jika saya ditanya mengapa mau mengambil gambar saja harus ribet dan susah? lha itu yang saya cari, yang mudah juga sudah pernah, apa salahnya coba yang susah, ini kan cuma kesenangan jadi hanya mencari rasa/taste/sesasi untuk diri sendiri saja, saya jg bukan seorang fotografer.
Langgan:
Entri (Atom)






















